Home / Ansoriana / (meng)aku Ulama ?

(meng)aku Ulama ?

Mahsun Fuad*

al-ulama’ umana’ ar-rasul ma lam yuhallithu as-sulthaanu (para ulama itu kepercayaannya para Rasul, selama mereka tidak bergumul lengket dan mesra dengan penguasa).

Terlepas dari sanadnya, matan hadis ini ternarasi kalimat khabariyah, yakni kalimat yang memungkinkan bagi pengucap (pewarta)-nya dinilai sebagai orang yang benar dan tidak, karena conten ucapannya yang terverifikasi.

Karena demikian, maka kalimat jenis ini umumnya bernilai istimrariyah (terus menerus: selamanya) yakni pelekatan nilai dan makna kata benda yang menjadi predikat (khabar) secara terus menerus kepada subjek (mubtada’)-nya.

Maka makna hadis di atas menjadi jelas, bahwa para ulama itu akan selalu menjadi kepercayaannya para Rasul selama mereka bisa melepaskan diri dari kungkungan kepentingan politik praktis para penguasa (dan kekuasaan).

Kita juga melihat bahwa kata sulthan ini sering kali juga diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan baik yang teoritis (husuli irtisami: tadbier) maupun kehadiran (laduni; huduri: tafwied), meminjam istilah Ha’iri Yazdi, juga bisa menyandra seseorang dalam bingkai keakuan diri (deifikasi).

Sama dengan kekuasaan, ilmu pengetahuan juga bisa menjadi selubung yang menjauhkan diri dari sifat kewarisan dari Rasul.

Dua selubung (penguasa [kekuasaan] dan ilmu pengetahuan) inilah yang bisa menghilangkan, mengomitasi, dan melenyap-sirnakan sifat dan karakter “kepercayaan dari Rasul” dari para ulama.

Maka, al-Ghazali memunculkan istilah ulama syu’ (ilmuan jahat) bagi mereka yang memakai selubung, simbol, dan jubah agama untuk tujuan dunia.

Karena itu jangan mengaku-ngaku diri sebagai ulama atau golongannya, sebab jika selubung-selubung itu terbuka, wajah pecundang yang (meng)aku Ulama akan Nampak Memalukan!!!.

13532979_10206895565526889_6827424531718819458_n

Mahsun Fuad, Ketua PC GP Ansor Ngawi

About dosi

Check Also

sip jadul 1

Catatan Akhir Nahdlatul Ulama dan Ansor

Ode Muktamar NU dan Kongres ANSOR Gabungan  Pertengahan Desember 1940, Surabaya terlihat ramai. Maklum, kala itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *